Udah tiga minggu gue (akhirnya) berhijab. Masih seumur jagung ya? Ga banyak orang yang tau kenapa akhirnya gue memutuskan untuk berhijab. So I decided to share a short story behind my big decision. Alasannya simple sih. Gue takut hari pertama gue berhijab adalah hari terakhir gue bernafas di dunia. That's it.
Keinginan buat berhijab sebenernya udah ada dari SMP. Tapi dulu ya karena ikut-ikutan temen. Akhirnya ga jadi. Gitu terus sampe kuliah. Keinginan itu muncul lagi di awal taun 2017 ini. Tapi masih mempertimbangkan "ga mau pake hijab dulu kalo belom siap. Dari pada nanti udah pake malah lepas lagi karena ga siap." Selain itu masih ada keinginan buat 'show off' punya rambut panjang yang padahal ga bagus-bagus amat dan punya badan (alhamdulilah) ideal. Masih pengen pake baju ngetat dan pendek. Masih pengen 'nakal' lah (but not that kind of 'nakal' yang minum alkohol/ngerokok/aneh-aneh).
Gue pun akhirnya mempertimbangkan untuk berhijab nanti kalo udah dapet kerja, karena takut dipersulit kalo berhijab. Akhirnya gue berdoa minta dimantapkan niat untuk berhijab. Mulai ngerajinin solat yang tadinya banyakan skip daripada ga skipnya. Ikut liqo sekali walaupun agak terpaksa. Mulai biasain baca Alqur'an lagi walaupun udah ga lancar karena ga pernah baca lagi.
Sampe suatu hari diminta jadi MC acara tabligh di RW, which means that harus pake hijab. Oke gue pake hijab. Itung-itung uji coba dulu deh. Awalnya panas, gerah, ga betah deh. Tapi gue coba niatin lagi untuk masa uji coba ini. Kuasa Allah emang ga bisa dibantah. Rasa panas itu cuma bertahan setengah jam pertama. Setelahnya adem banget banget banget walaupun cuaca hari itu terik banget.
Dari situ muncul pertimbangan untuk berhijab setelah wisuda. Jadi cari kerja udah pake hijab. Gue mulai yakin rezeki ga bakal kemana. Kenapa harus setelah wisuda? Lagi-lagi pertimbangannya adalah mau pake kebaya wisuda yang backless dan ngepas badan buat show off.
Sampe suatu hari seorang temen yang kelakuannya sama gilanya dengan gue, temen seperghibahan gue, seperhujatan gue, berhijab lebih dulu. Katanya supaya dipermudah segala urusannya. Pas gue ketemu, gue cuma bilang "jangan dicopot lagi ya. Gue ga suka ada yang udah niat pake tapi dicopot lagi." Ironis ya gue bisa bilang begini tapi guenya belom berhijab. Ngeliat temen gue udah berhijab duluan, ada sedikit pemikiran "gue kapan ya?" Ditambah lagi beberapa temen yang lain nanya "lo ga ikutan?" Ya, jadi tamparan sih sebenernya.
Selama masa pertimbangan itu, sering banget di Instagram ada postingan soal menutup aurat, lengkap dengan ayatnya, dan segala macemnya. Banyak postingan self-reminder yang bikin gue berpikir apa semua itu petunjuk untuk segera berhijab. Ditambah lagi banyaknya postingan mengenai LGBT dan topik skripsi gue yang juga mengenai LGBT, cuma bisa bikin istighfar karena sadar mungkin kiamat is so much closer than I thought.
Di suatu hari Minggu, gue pergi sama papa. Gue seneng banget padahal cuma ke PMI buat donor. Mungkin karena udah 2 bulan papa di Bandung buat jagain cucunya karena kakak ipar gue udah berangkat S2 ke Jepang dan kakak gue kerja. Seumur-umur gue ga pernah tinggal jauh dari papa dan hari itu gue sadar gue kangen banget sama papa. Tiba-tiba di jalan pulang keinget ada yang pernah bilang ke gue "seorang ayah ga perlu jalan lewatin jembatan Shiratal Mustaqim (well I don't really know the correct spelling. Sorry) jika anak perempuannya sudah menutup aurat. Si ayah juga akan terlindung dari jilatan api neraka jika anak perempuannya sudah menutup aurat." I don't know if it's correct or not, sejujurnya gue lupa persis kalimatnya kaya apa. Tapi ini cukup bikin gue langsung merasa takut ga bisa berbakti sama orang tua di dunia dan akhirat. Sampe rumah, gue akhirnya mantap untuk berhijab mulai hari Rabu. Kenapa Rabu? Hari Rabu itu bertepatan dengan hari ulang taun gue yang ke 22.
Hari Senin, gue mulai buka-buka Pinterest untuk nyari style hijab yang kira-kira bisa gue coba. Tiba-tiba gue kepikiran "kalo gue ga sampe hari Rabu gimana ya?" Itu selalu terngiang di kepala gue sepanjang hari Senin.
Akhirnya di hari Selasa, gue memutuskan untuk berhijab. Ketika gue minta izin ke mama, mama nangis sambil bilang "istiqomah ya nak." Ya gue jadi ikutan nangis dan janji untuk ga lepas hijab karena udah mantap niat gue. Kalo diitung, hanya 3 minggu proses pemantapan ini.
Kalo orang beranggapan bahwa hijab adalah bentuk opresi terhadap wanita, gue yakin itu salah. Gue memantapkan niat berhijab tanpa ada paksaan dari pihak manapun, bahkan orangtua gue. Perempuan bebas dan berhak untuk ngelakuin apa aja terhadap tubuhnya. Kalo perempuan bebas untuk memamerkan tubuhnya untuk publik, maka perempuan juga bebas untuk menutup tubuhnya untuk publik. Itu hak semua perempuan untuk mengambil pilihan atas dirinya sendiri.
Bismillah, gue hijrah untuk jadi pribadi yang lebih baik. Walaupun untuk istiqomah ternyata ga semudah itu. Banyak hal yang jadi ujian. Harus banyak istighfar. Bismillah, Allah selalu bersama hamba-Nya.
23.59
As I lay down, my brain can't stop recalling memories of you.
00.00
I roll in my bed only to find the truth that you're not there.
00.01
My brain keeps playing the fragments of our memories.
00.02
I pull the blanket, pretend that it's you who cover my cold body.
00.03
I close my eyes and I can sense your fresh smell of your favourite cologne.
00.04
Ten minutes and still counting, I crave for your arms around me.
00.05
I can't decide which one is harder to forget, you or the moments with you.
As I lay down, my brain can't stop recalling memories of you.
00.00
I roll in my bed only to find the truth that you're not there.
00.01
My brain keeps playing the fragments of our memories.
00.02
I pull the blanket, pretend that it's you who cover my cold body.
00.03
I close my eyes and I can sense your fresh smell of your favourite cologne.
00.04
Ten minutes and still counting, I crave for your arms around me.
00.05
I can't decide which one is harder to forget, you or the moments with you.
Banyak orang berkata LDR beda kota itu sulit. Banyak juga yang bilang LDR beda negara lah yang tersulit. Namun mereka tidak sadar bahwa LDR beda rumah ibadah itu lebih sulit dari semua hubungan yang masih bisa terukur kilometer itu.
Kita sama-sama penganut monoteisme. Kita sama-sama menyembah Sang Pencipta. Hanya saja, sujudku di atas sajadah tak sama dengan ibadah misamu di gereja. Lantunan ayat suciku berbeda dengan lantunan lagu puji-pujianmu.
Aku tahu kamu tak pernah lupa menyelipkan namaku dalam bait doamu. Sama seperti namamu yang tak pernah luput dari setiap doaku. Dalam setiap 5 waktu ibadahku, dalam setiap minggu ibadahmu. Bukankah wujud cinta terbaik adalah saling mendoakan?
Aku sepenuhnya sadar bahwa kita sama-sama mempertentangkan cinta terhadap sesama manusia dan cinta terhadap Yang Maha Esa. Aku tidak memintamu untuk menyerahkan imanmu untukku, karena aku pun tidak akan menyerahkan imanku. Kita sama-sama tahu bahwa menggadaikan cinta Tuhan untuk cinta manusia itu haram.
Tapi biarkanlah kita saling mencintai. Tapi biarkanlah kita saling mengimani masing-masing. Biarkanlah orang menghakimi. Biarkanlah Tuhan yang menilai.
Karena bagimu, agamamu. Bagiku, agamaku.
My dearest Amy,
We've been together for a year. Yes, it's been that long. It seems like yesterday when the first time I saw you at the bookstore. I knew that there's something about you. But I wasn't sure enough. I kept thinking about you. Until the next time I saw you, I ask you out. I was so damn happy when you say yes.
We've been together for a year. Yes, it's been that long. It seems like yesterday when the first time I saw you at the bookstore. I knew that there's something about you. But I wasn't sure enough. I kept thinking about you. Until the next time I saw you, I ask you out. I was so damn happy when you say yes.
As the time past, I felt that my feelings to you is real. The way you talk, the way you dress, the way you think, you never failed to impress me, Amy. Such a strong woman, I always thought. Everybody thought that we're meant to be together. And you should know that I believe that. Until last week.
Suddenly I got so confused about you. I thought I know you inside out. But I didn't. We fought a lot, Amy. And I still don't understand you. You should know that I don't understand myself either. I don't know what I want from you. But I still fought for you. I wanted you to know that I won't let you slip out of my fingers.
Yesterday I woke up in the morning. I was thinking if we really meant to be together. Until I realize that I should let you go. We don't understand each other, Amy. I've been so selfish thinking that I can't let you go. But I must. That's the best for us.
I just want you to know that I'm with someone else now. I know. It's so damn fast. But somehow I believe that Frederick is really meant for me. I never knew if he will be so damn attractive to me, while before I know him I would be uncomfortable with him. He teaches me to see something that I hate the most in this world from different perspective. He teaches me to understand that it's such a relief to be honest to yourself.
I really hope that you'll be great with Nick. And I hope I'll be great with Frederick too. So long, Amy. 'Till we meet again. Hopefully in the mean time.
Love,
M
I really hope that you'll be great with Nick. And I hope I'll be great with Frederick too. So long, Amy. 'Till we meet again. Hopefully in the mean time.
Love,
M
Dear Sir,
I read a book tonight
That reminds me of you
Somehow it's like bringing back
All you've said to me
Dear Sir,
I realize you've gone so far
While I stay here
Waiting for you to come back
Indeed I know you won't
Dear Sir,
I haven't cry for you
For I remember it's been months
Only tonight it rolls down my cheek
And it's you I remember
I can feel your fear, honey
But no need to worry
I'll do it slowly
As I enjoy peacefully
Your symphony of agony
I want to explore your sensuality
Through your beautiful anatomy
No, it's not a tragedy
As you are my fantasy
Oh, my dear Natalie
Hai Nona, cepatlah sembuh
Kasihan tubuhmu
Dirongrong penyakit melulu
Hai Nona, cepatlah sembuh
Ada aku yang ingin bertemu
Sudah lama menyimpan rindu
Kasihan tubuhmu
Dirongrong penyakit melulu
Hai Nona, cepatlah sembuh
Ada aku yang ingin bertemu
Sudah lama menyimpan rindu